Segelas aren
latte less sugar menemani sore hari ini. Semakin dewasa aku semakin
membutuhkan asupan kopi. Entah dari mana aku bisa sesuka ini dengan kopi. Apa
karena aku membutuhkan dopamin dari kafein? Atau hanya sekadar suka
menghabiskan waktu di coffee shop? Ah.. enggak tahu. Setelah minum
kopi, mood-ku langsung membaik. Aku juga merasa lebih produktif
jika mengerjakan sesuatu di luar kos karena daya tarik kasur tuh kuat banget,
tubuhku sampai pengen kesedot tuh.
Sama kadang aku mikir "Duh, aku udah ngeluarin uang buat beli kopi, harus fokus nih, nggak boleh rugi." Tapi itu dulu sih, sekarang aku ngopi ya pengen ngopi. It's okay ngopi tapi nggak ngapa-ngapain kan. Kayak sekarang ini, aku lagi nulis blog sambil menikmati kopi, hehe.
![]() |
| Aren Latte |
Oh,
ngomong-ngomong, kemarin malam aku membuka journalling-ku tahun
lalu. Ada salah satu bagian yang membuatku tertarik untuk membahasnya di blog
ini. Tepatnya tanggal 30 Januari 2025 pukul 20.43, aku menceritakan kebosananku
ketika bekerja setelah libur selama 5 hari. Aku juga mempertanyakan mengapa
hidupku gini-gini aja, ya? Hanya menjalankan rutinitas yang berulang: kerja,
tidur, kerja lagi, tidur lagi. Kadang aku ingin merasakan butterfly era, like
to be loved by someone lah (anjay). Tapi di balik semua kebosanan itu,
aku memilih untuk tetap bertahan, berusaha enjoy dengan apa
yang aku kerjakan, dan fokus menata karier.
![]() |
| Journalling-ku |
Membaca ulang harapan tentang "butterfly era" itu membuatku tersenyum getir. Lucu banget, seolah semesta mendengar permintaanku di jurnal itu. Setahun kemudian, aku benar-benar merasakannya. Perasaan senang ketika ada seseorang yang bisa diajak saling bertukar pikiran. Asik. seperti selayaknya teman yang membicarakan tentang apa saja.
Tapi disisi lain, rasa tersebut membuat seluruh organ tubuhku bereaksi hebat. aku merasa ingin terus diperhatikan, merasa lebih cantik dari sebelumnya, dan bawaanya ingin terus membagikan semua hal-hal kecil yang aku lakukan kepadanya. Tapi anehnya, rasa itu juga memicu kebingungan. Aku bingung dengan diriku sendiri, juga dengan sikapnya. kadang aku merasa senang, kadang ada momen dimana aku juga merasa risih saat mendapatkan kabar dari dia. Anehnya lagi, begitu ada jarak di antara kami, aku langsung merasa kosong.
Dari
situ aku mulai bertanya-tanya pada diri sendiri: Apakah aku benar-benar
jatuh cinta? Atau aku hanya merasa terisi kembali setelah sekian lama kosong?
Kebingunganku
itu akhirnya terjawab oleh sikapnya. Dia yang tiba-tiba datang dan
memperlakukanku seolah aku ini seseorang yang spesial, ternyata kenyataannya
sama sekali tidak. Setelah aku memberanikan diri untuk memastikan langsung, memang benar, dia
hanya singgah tanpa pernah berniat untuk sungguh-sungguh
Hal
ini membuatku berpikir "kenapa aku harus membuang-buang energi dan
waktu untuk orang seperti itu?" Tapi ya namanya juga perasaan,
mana bisa disetel pakai logika. Semakin keras aku mencoba menahan dan melupakan,
yang ada dia malah makin penuh dikepala.
Aku
tidak menyangka ini menjadi pengalaman butterfly era pertama
yang sangat membekas. Mungkin aku harus belajar manage ekspektasiku
sendiri. Sebetulnya aku sudah tahu, kalau aku menaruh harapan terlalu dalam
dengan seseorang, aku akan terjebak dengan ekspektasi yang membuatku sakit hati. Tapi
entah kenapa, waktu itu aku melewati batasan yang aku ciptakan sendiri, dan ya, aku memilih
untuk jatuh juga, meskipun akhirnya harus patah.
Saat ini aku perlahan kembali menjadi diriku seperti sebelum ada dia. Beruntungnya, ada teman-teman yang selalu siap mendengarkan keluh kesahku, dan tentu saja, kesibukan positif yang membuatku tetap waras. Pelan-pelan aku belajar berdamai dengan kenyataan kalau nggak semua orang yang datang dan mengetuk pintu itu tujuannya untuk menetap. Ada yang memang cuma ditugaskan semesta untuk memberikan sebuah pelajaran.
Kembali
ke es batu di gelas aren latte-ku yang sekarang sudah mencair
total. Rasanya mungkin sudah agak hambar karena kebanyakan air. sama seperti hidup, nggak semua hal berakhir manis sesuai
ekspektasi kita di masa lalu, tapi bukan berarti perjalanannya nggak
berharga untuk dinikmati dan disyukuri, kan? Cheers!























