Saturday, 14 February 2026

Aku dan Jaket Bapak

Sore hari ini hujan. Aku beranjak dari kasur kos yang hangat menuju warung soto kuali di kampung sebelah. Sudah tidak terhitung berapa kali aku makan di sana, mungkin hampir setiap minggu aku mencicipi soto khas Solo itu. Biasanya aku memesan soto ayam besar, ditambah dua tempe goreng dan satu tusuk telur puyuh. Untuk minuman, aku sering membawanya sendiri karena selain lebih sehat juga lebih menghemat uang. Setelah sekitar sepuluh menit makan, aku pulang kembali ke kos. Alhamdulillah, hari ini hujan tidak begitu  deras sehingga aku tidak perlu memakai mantel yang merepotkan. Cukup memakai jaket Bapak, aku sudah merasa aman dari percikan hujan.

Ngomong-ngomong soal jaket Bapak, jaket ini sudah menemaniku sejak SMA. Dulu, waktu SMA, aku tidak memiliki keinginan untuk membeli jaket sendiri. Pikirku, kalau bisa pinjam, kenapa harus beli. Walaupun dari segi penampilan tidak mengikuti tren, tetapi soal kenyamanan tidak perlu diragukan. Aku ingat betul betapa hangatnya jaket ini ketika kupakai berangkat sekolah sendirian dengan jarak hampir 18 kilometer.

Dulu aku sering memakai jaket ini tanpa menutup resletingnya. Aku merasa kalau resleting ditutup justru terlihat kurang bagus. Karena itu, Bapak sering memarahiku dengan berkata, “Gawe jaket kok resletinge ora ditutup. Iso loro dodomu, ngko mundhak masuk angin.” Artinya, buat apa pakai jaket kalau resletingnya tidak ditutup, dadamu bisa sakit dan nanti kamu masuk angin.


Kalau diingat kembali, rasanya sesak karena orang yang memberi nasihat itu sekarang sudah tidak lagi berada di sampingku. Jaket ini tidak lagi kupakai untuk berangkat sekolah, tetapi untuk bekerja, menghidupi diriku sendiri dan keluarga yang engkau tinggalkan. Sekarang, setiap kali berangkat kerja aku selalu mengenakan jaket ini. Dalam diam, aku berharap hangatnya bukan hanya melindungiku dari udara pagi, tapi juga menghadirkan sedikit rasa ditemani, seolah Bapak masih ikut berjalan bersamaku, seperti dulu.

Share: