Sunday, 7 June 2026

EKSPETASI

Segelas aren latte less sugar menemani sore hari ini. Semakin dewasa aku semakin membutuhkan asupan kopi. Entah dari mana aku bisa sesuka ini dengan kopi. Apa karena aku membutuhkan dopamin dari kafein? Atau hanya sekadar suka menghabiskan waktu di coffee shop? Ah.. enggak tahu. Setelah minum kopi, mood-ku langsung membaik. Aku juga merasa lebih produktif jika mengerjakan sesuatu di luar kos karena daya tarik kasur tuh kuat banget, tubuhku sampai pengen kesedot tuh.

Sama kadang aku mikir "Duh, aku udah ngeluarin uang buat beli kopi, harus fokus nih, nggak boleh rugi." Tapi itu dulu sih, sekarang aku ngopi ya pengen ngopi. It's okay ngopi tapi nggak ngapa-ngapain kan. Kayak sekarang ini, aku lagi nulis blog sambil menikmati kopi, hehe.

Aren Latte

Oh, ngomong-ngomong, kemarin malam aku membuka journalling-ku tahun lalu. Ada salah satu bagian yang membuatku tertarik untuk membahasnya di blog ini. Tepatnya tanggal 30 Januari 2025 pukul 20.43, aku menceritakan kebosananku ketika bekerja setelah libur selama 5 hari. Aku juga mempertanyakan mengapa hidupku gini-gini aja, ya? Hanya menjalankan rutinitas yang berulang: kerja, tidur, kerja lagi, tidur lagi. Kadang aku ingin merasakan butterfly era, like to be loved by someone lah (anjay). Tapi di balik semua kebosanan itu, aku memilih untuk tetap bertahan, berusaha enjoy dengan apa yang aku kerjakan, dan fokus menata karier.

Journalling-ku

Membaca ulang harapan tentang "butterfly era" itu membuatku tersenyum getir. Lucu banget, seolah semesta  mendengar permintaanku di jurnal itu. Setahun kemudian, aku benar-benar merasakannya. Perasaan senang ketika ada seseorang yang bisa diajak saling bertukar pikiran. Asik. seperti selayaknya teman yang membicarakan tentang apa saja.

Tapi disisi lain, rasa tersebut membuat seluruh organ tubuhku bereaksi hebat. aku merasa ingin terus diperhatikan, merasa lebih cantik dari sebelumnya, dan bawaanya ingin terus membagikan semua hal-hal kecil yang aku lakukan kepadanya. Tapi anehnya, rasa itu juga memicu kebingungan. Aku bingung dengan diriku sendiri, juga dengan sikapnya. kadang aku merasa senang, kadang ada momen dimana aku juga merasa risih saat mendapatkan kabar dari dia.  Anehnya lagi, begitu ada jarak di antara kami, aku langsung merasa kosong.

Dari situ aku mulai bertanya-tanya pada diri sendiri: Apakah aku benar-benar jatuh cinta? Atau aku hanya merasa terisi kembali setelah sekian lama kosong?

Kebingunganku itu akhirnya terjawab oleh sikapnya. Dia yang tiba-tiba datang dan memperlakukanku seolah aku ini seseorang yang spesial, ternyata kenyataannya sama sekali tidak. Setelah aku memberanikan diri untuk memastikan langsung, memang benar, dia hanya singgah tanpa pernah berniat untuk sungguh-sungguh

Hal ini membuatku berpikir "kenapa aku harus membuang-buang energi dan waktu untuk orang seperti itu?" Tapi ya namanya juga perasaan, mana bisa disetel pakai logika. Semakin keras aku mencoba menahan dan melupakan, yang ada dia malah makin penuh dikepala.

Aku tidak menyangka ini menjadi pengalaman butterfly era pertama yang sangat membekas. Mungkin aku harus belajar manage ekspektasiku sendiri. Sebetulnya aku sudah tahu, kalau aku menaruh harapan terlalu dalam dengan seseorang, aku akan terjebak dengan ekspektasi yang membuatku sakit hati. Tapi entah kenapa, waktu itu aku melewati batasan yang aku ciptakan sendiri, dan ya, aku memilih untuk jatuh juga, meskipun akhirnya harus patah.

Saat ini aku perlahan kembali menjadi diriku seperti sebelum ada dia. Beruntungnya, ada teman-teman yang selalu siap mendengarkan keluh kesahku, dan tentu saja, kesibukan positif yang membuatku tetap waras. Pelan-pelan aku belajar berdamai dengan kenyataan kalau nggak semua orang yang datang dan mengetuk pintu itu tujuannya untuk menetap. Ada yang memang cuma ditugaskan semesta untuk memberikan sebuah pelajaran.

Kembali ke es batu di gelas aren latte-ku yang sekarang sudah mencair total. Rasanya mungkin sudah agak hambar karena kebanyakan air. sama seperti hidup, nggak semua hal berakhir manis sesuai ekspektasi kita di  masa lalu, tapi bukan berarti perjalanannya nggak berharga untuk dinikmati dan disyukuri, kan? Cheers!




Share:

Saturday, 14 February 2026

Aku dan Jaket Bapak

Sore hari ini hujan. Aku beranjak dari kasur kos yang hangat menuju warung soto kuali di kampung sebelah. Sudah tidak terhitung berapa kali aku makan di sana, mungkin hampir setiap minggu aku mencicipi soto khas Solo itu. Biasanya aku memesan soto ayam besar, ditambah dua tempe goreng dan satu tusuk telur puyuh. Untuk minuman, aku sering membawanya sendiri karena selain lebih sehat juga lebih menghemat uang. Setelah sekitar sepuluh menit makan, aku pulang kembali ke kos. Alhamdulillah, hari ini hujan tidak begitu  deras sehingga aku tidak perlu memakai mantel yang merepotkan. Cukup memakai jaket Bapak, aku sudah merasa aman dari percikan hujan.

Ngomong-ngomong soal jaket Bapak, jaket ini sudah menemaniku sejak SMA. Dulu, waktu SMA, aku tidak memiliki keinginan untuk membeli jaket sendiri. Pikirku, kalau bisa pinjam, kenapa harus beli. Walaupun dari segi penampilan tidak mengikuti tren, tetapi soal kenyamanan tidak perlu diragukan. Aku ingat betul betapa hangatnya jaket ini ketika kupakai berangkat sekolah sendirian dengan jarak hampir 18 kilometer.

Dulu aku sering memakai jaket ini tanpa menutup resletingnya. Aku merasa kalau resleting ditutup justru terlihat kurang bagus. Karena itu, Bapak sering memarahiku dengan berkata, “Gawe jaket kok resletinge ora ditutup. Iso loro dodomu, ngko mundhak masuk angin.” Artinya, buat apa pakai jaket kalau resletingnya tidak ditutup, dadamu bisa sakit dan nanti kamu masuk angin.


Kalau diingat kembali, rasanya sesak karena orang yang memberi nasihat itu sekarang sudah tidak lagi berada di sampingku. Jaket ini tidak lagi kupakai untuk berangkat sekolah, tetapi untuk bekerja, menghidupi diriku sendiri dan keluarga yang engkau tinggalkan. Sekarang, setiap kali berangkat kerja aku selalu mengenakan jaket ini. Dalam diam, aku berharap hangatnya bukan hanya melindungiku dari udara pagi, tapi juga menghadirkan sedikit rasa ditemani, seolah Bapak masih ikut berjalan bersamaku, seperti dulu.

Share:

Friday, 11 August 2023

PEOPLE COME AND GO #1

Annyoeng Chingu yaa... (Mencoba sapaan baru xixix)

annyoeng author, wahh author comeback

xixixi, sebenarnya bingung mau nulis apa, kamu ada ide ga chingu?

hmmm apaa yaaa, ini nih thor, tau ga si ungkapan yang lagi viral?

apaa tuuu?

ituu tuu yang banyak dimention di Twittwor, "People Come and Go"

Ahhh~ I see, aku punya banyak momen people come and go xixi, sepertinya menarik nih buat dibahas. Let's gooo...

People Come and Go, kalau diartikan secara word-by-word "orang datang dan pergi". Ungkapan tersebut sering muncul di timeline twittwor ku. Banyak orang menceritakan pengalaman mereka sewaktu menghadapi people come and go ini. Dalam setahun terakhir, aku juga menyadari bahwa banyak people come and go dalam kehidupanku. Aku menyadari hal itu ketika ada suatu momen yang tidak bisa aku lupakan. Bukan hanya momen menyenangkan, tapi juga momen menyedihkan yang bahkan aku tidak menduga akan mengalami kejadian seperti itu. Eitss tapi tunggu dulu, in this section, lemme tell u about my cheerful moments.

Momen pertama yaitu ketika aku menjalankan KKN pada tahun 2022 (tepat satu tahun yang lalu). Mungkin banyak orang yang menganggap KKN itu hanya fokus mengerjakan program kerja saja. Tapi pengalamanku membuktikan sebaliknya. Aku dan anggota KKN ku menempati sebuah desa yang menurutku sangat istimewa. Walaupun waktunya singkat, tapi banyak momen yang menyenangkan. Kami disambut dengan baik oleh pihak desa. Bahkan beberapa kali kami diajak makan bersama, bakar-bakar dan liburan ke pantai (asik pwol). Beruntungnya aku mendapatkan teman KKN yang friendly dan se-frekuensi. Kami dapat bekerja sama dengan baik, berbagi canda tawa dan membantu satu sama lain. wahhh seru ya thor KKN nya? yess seru banget, tapi yang namanya ada pertemuan pasti ada perpisahan kannn. Pada akhirnya, kami harus kembali menjalankan aktivitas masing-masing sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir (tertampar kenyataan).

Next ke momen kedua....

Momen kedua ini sudah aku spill dipostingan blog ku sebelumnya (aku sarankan baca dulu xixi). Pengalaman magang tersebut merupakan salah satu momen yang tak terduga. Aku sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan magang disalah satu BUMN Indonesia. Banyak sekali benefit yang aku dapatkan, baik benefit berupa materiil maupun imateriil. Salah satu benefit imateriil yaitu kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat dan memperoleh banyak pembelajaran dari mereka.

Pertama-tama, aku bertemu dengan mentor yang berkompeten dalam bidangnya. Beliau sangat sabar dalam membimbing dan memberikan arahan untuk melakukan suatu pekerjaan. Aku juga bersyukur bisa dipertemukan dengan Department Head dan seluruh staf yang sangat welcome kepada anak magang. Banyak pembelajaran yang aku dapatkan melalui cerita perjalanan karir yang telah beliau-beliau lalui.

Kemudian, selama magang aku bertemu dengan teman-teman magang dari program PMMB dan Reguler (sekarang namanya Magenta). Kalau teman-teman magang dari reguler kebanyakan sudah lulus atau freshgraduate. Walaupun mereka lebih 'senior', tapi tidak ada gap diantara kami yang 'junior'.  Aku juga akrab dengan teman-teman magang PMMB di luar divisiku. Kedekatan itu terjalin ketika kami sering makan bersama di kantin. Kami saling bercerita satu sama lain seperti, apa saja yang dikerjakan hari ini (kalau versi jowo nya "piye, ono kerjoan ta dino iki? wkwkwk" ) atau membahas tentang progress skripsi masing-masing.

Waktu berlalu begitu cepat, tiba saatnya kami harus berpisah. Satu-persatu temanku menyelesaikan masa magangnya. Sedih? iya, Sepi? banget. Banyak momen berharga yang telah kami lewati bersama. Tapi yaa kembali lagi, setiap orang memiliki tujuan dan impian yang berbeda-beda bukan? Ada yang sudah dapat kerjaan, ingin fokus menyelesaikan skripsi atau melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. 

Dari kedua momen tersebut, aku menyadari bahwa mau bagaimanapun kita harus siap menerima kenyataan  kalau tidak semua orang akan stay terus di ruang yang sama. Seperti kehidupan yang terus berputar, begitu juga orang-orang di sekitar kita. Setiap orang membawa bagian dari cerita mereka sendiri dan hadir untuk memberi pelajaran, meninggalkan jejak, lalu bergerak maju menuju tujuan mereka (yah, seperti itulah kehidupan)

Oke, sampai disini dulu ya untuk section ini xixi, sampai jumpa di section berikutnya!

Share:

Wednesday, 7 October 2020

1 TAHUN TANPA BAPAK

7 Oktober 2019. Tanggal kelam, bulan kelam dan tahun kelam

7 Oktober 2019. Tangisan terdengar, bertubi-tubi tak berhenti

7 Oktober 2019. Ya, salah satu belahan jiwa hilang dari muka bumi. Bapak

 

1 tahun sudah, beliau meninggalkan kami, keluarga kecil yang hidup ditengah desa yang memiliki segudang kasih sayang dan perhatian. Tidak mudah untuk tidak mengingat beliau karena setiap hari, setiap jam, setiap menit kami bertatap muka saling bercengkrama. Ah, ingin menangis rasanya. Hal yang paling di rindukan dari beliau adalah beliau seorang penyabar, lembut, menenangkan, dan yang pastinya connect jika di ajak ngobrol. Sifat tegas nya yang sangat ku takuti membuatku kengen jika mengingatnya. Rasanya baru kemarin aku berbagi kabar via video call waktu di kos. Saat itu tepat sekitar 1 bulan aku di Surabaya. Masih ingat juga ketika beliau mengantarkan ku ke stasiun kereta untuk berangkat menimba ilmu di Surabaya. 1 bulan di Surabaya aku disibukkan berbagai ospek yang melelahkan. Hingga pada akhirnya aku memiliki kesempatan untuk pulang.

24 Agustus 2019 , aku berangkat naik kereta dari Surabaya dengan teman sejurusan yang juga tinggal di Bojonegoro. Tepat pukul 13.00, beliau sudah menungguku di depan stasiun, aku tidak ingat persis pakaian yang dikenakan namun yang ku ingat ketika perjalanan pulang aku memandangi rambut yang dipenuhi uban  dari belakang. Hatiku bergetar, tidak tahu mengapa tiba-tiba aku memikirkan hal yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya. Cepat-cepat aku membuang pikiran itu. Setibanya dirumah, aku bercerita semuanya kepada beliau, mulai dari aku sakit pas dikos dan berbagai kesibukanku lainnya. disitulah aku merasa tenang. Beliau selalu mendengarkan tanpa menyela pembicaraanku. Hal itu yang kusukai dari Beliau.

25 Agustus 2019, aku kembali ke Surabaya. Hari itu, aku dan temanku tidak mendapatkan tiket kereta sehingga kami berangkat naik bis sore. Sampailah disurabaya sekitar jam 9 malam karena waktu itu di lamongan tedapat perbaikan jalan akbatnya macet. Kami juga harus menaiki  angkot sekitar 1 jam dari terminal. Waktu itu, keluargaku  menjadi panik karena tiba ku terlalu larut. Bapak sampai menelfonku hingga meminta saudara yang ada di surabaya untuk menjemputku. Namun pada akhirnya aku sampai di kos dengan selamat walaupun agak kemaleman.

Aku kembali disibukkan dengan berbagai kegiatan dikampus. Mulai dari ospek yang cukup lama hingga tugas kuliah yang menumpuk. Masih ingat ketika aku bolak-balik fotokopian demi mengerjakan tugas ospek, foto satu persatu dengan teman seangkatan dan itupun harus di cetak lalu di tempel di buku angkatan. Sungguh melelahkan.

7 September 2019, aku mendengar kabar dari Ibu kalau bapak dilarikan ke puskesmas. Aku mulai cemas namun tetap berfikir positif mungkin bapak tak lama akan sembuh. Namun, selang beberapa hari ibu menghubungiku jika bapak dirujuk ke rumah sakit. Aku langsung kebingungan. Mas ku yang waktu itu masih di malang menghubungiku untuk mengajak pulang. Aku lupa tepatnya ditanggal berapa, yang pasti tidak lama setelah mendengar kabar dari ibu, aku dan mas ku langsung berangkat ke Tuban.

Sekitar pukul 3 sore, kami (aku dan mas) sampai di RS. Aisiyah Bojonegoro. Diruangan itu terdapat pakde dan ibu ku. Ketika kami datang, bapak menetaskan air mata, air mata yang baru pertama kali aku lihat. Aku tipikal orang yang menyembunyikan kekhawatiranku kepada keluarga. Aku menghampiri beliau tanpa megucapkan apapun. Hanya memandangi tubuh lemah yang sudah berbaring dikasur. Sampai detik ini pun aku masih tidak percaya, aku menulis tentang cerita bapakku.

Setelah menjenguk bapak selama beberapa hari, akhirnya aku kembali ke Surabaya untuk mengurus terkait perizinan dan lain-lain. Tak lama kemudian aku pulang lagi dan seketika itu aku melihat bapak sudah tidak sadarkan diri. Kritis. Begitu bahasa medis. Aku langsung menangis ditemani pakde ku saat itu. Pakdeku menyuruhku sabar dan tetap mendoakan bapak. Tubuh bapak sudah dipenuhi berbagai alat medis. Melihatnya saja terasa menyakitkan. Hingga 5 hari, bapak  akhirnya siuman. Aku bersyukur mendengar kabar itu dan tidak sabar melihat raut wajah bapak karena aku sudah disurbaya lagi. Setelah siuman, beliau pindah di RSUD. Aku tidak ingat persis beliau diruang apa karena mas dan ibu lah yang paling lama menjaga bapak. Dan itu lah yang aku sesali. Aku tidak berbuat banyak hingga akhir hayat beliau.

Disaat-saat bapak sakit, aku mengalami tekanan mental di kampus. Pikiranku kemana-kemana. Tidak tenang. Masih ingat bagaimana riwehnya bolak balik ke akademik dan bahkan pernah berbohong ke dosen (jangan ditiru :")) untuk mengurus perizinan, sebetulnya aku bisa saja bolos karena ada jatah bolos tersendiri. Namun, pikiran seorang maba waktu itu tidak mau absennya ada keterangan bolos. 

6 Oktober 2020. Aku tidak ingat persis apa yang aku lakukan dihari itu. Tapi yang ku ingat, pada malam hari aku sempat video call dengan adikku yang berkunjung ke rumah sakit. Sebelumnya, aku mempunyai firasat yang tidak mengenakkan. Ketika membaca Al-Qur'an, aku menemui ayat yang artinya "setiap makhluk yang hidup pasti akan mati" intinya seperti itu. Baru lah aku menelfon adikku yang kebetulan dia jenguk bapak. Keadaan bapak waktu itu sudah ngedrop alias kritis.  

7 Oktober 2020. Hari itu aku uts, tepatnya uts akuntansi dasar. Aku mengerjakan soal dengan mudah. Perasaan ku sangat senang. Belum ada firasat lagi dihari itu. Namun ketika sampai kos, aku mendengar kabar dari mbak ku. Dia mengatakan turut berduka cita kepadaku. Aku langsung shock dan tidak percaya. Aku menangis histeris sampai teman sekamarku tidak tega meninggalkanku untuk berangkat kuliah. Lalu datanglah teman samping kamar dan ibu kos yang menenangkanku. Aku menelfon orang-orang rumah dan bertanya apakah benar kabar tersebut. Beberapa lama kemudian alm. Pakde ku datang dan mengantarku pulang ke tuban. Sesampainya dirumah, aku sudah tidak bisa melihat wajah bapak untuk yang terakhir kalinya karena beliau sudah dikebumikan. 

Innalillahi wa innailaihi roji'un.


#7 Oktober 2020

# 22.27 PM

Share:

Friday, 2 October 2020

Secuil Kehidupan di Kampus

hai laman blog ku tersayang. 5 tahun kamu bertahan dengan konten yang sama sekali tidak berbobot :")). eh btw kok tiba-tiba author nulis lagi? ngga tau juga sih emang lagi mood aja.

Ini mengenai kehidupanku di organisasi kampus yang aku ikuti sih. aku mengikuti 4 organisasi intra kampus maupun ekstra kampus. poin masalahnya terletak organisasi ekstra sebut saja ormex. pasti di setiap kampus seluruh Indonesia terdapat beberapa ormex. 

kok topiknya tentang organisasi thor? apa yang menarik coba? ya siapa sih yang mau baca blog ini. eh ngga-ngga wkwkkw. ya tau lah ini blog ngga seperti blog lain yang membahas permasalahan berbobot dengan kalimat yang terstruktur dengan baik. Intinya pengen sharing aja sih  murni hanya mengutarakan pendapat yang aku rasakan. 

Back to topic.

Fyi, aku kutip dari laman Beritasatu.com mengenai Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018 ormex diperbolehkan masuk kampus dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang ideologi bangsa dan mencegah radikalisme. Dari laman tesebut menjelaskan pula bahwa ormex tidak boleh melakukan "politik praktis" di lingkungan kampus. Btw aku sebenarnya juga tidak tertarik dengan dunia politik maupun sesuatu yang berkaitan dengan ideologi-ideologi seperti itu. lantas mengapa aku bisa terjun di ormex ini?

Singkat cerita, alasan aku masuk ormex ini katakanlah ormex A karena rasa penasaranku terhadap ormex A. aku berbeda dari kader lain yang diajak atau dipengaruhi kating buat join. aku tidak berpikir panjang ketika ingin memutuskan untuk masuk di ormex A. aku tidak terlalu mengetahui seluk-beluk ormex A berdiri.aku hanya membaca sekilas beberapa informasi ringan seperti pendiri, tempat dan kapan berdirinya. oh iya faktor dari rasa penasaranku itu juga berasal dari kakak laki-laki ku yang notabene sudah bertahun-tahun menjadi anggota dari ormex A. aku melihat kakakku sering demo memakai atirbut ormex A. untuk orang sepertiku yang pada saat itu masih SMA, aku excited melihat itu. Aku berkomitmen akan ikut ormex ketika masuk kuliah. dan ya, akhirnya aku resmi jadi "kader".

Selama aku menjadi kader atau anggota, bisa dibilang aku anggota yang semi-aktif. kadang aktif kadang pasif. pengalamanku setelah mengikuti training, ngga tau kenapa kayak rasa percaya diri itu muncul berlebihan wwkwk. Aku mengikuti training sekitar 1 tahun yang lalu. Apa yang aku dapat dari training tersebut? "materi yang terlupakan beberapa hari kemudian". Aku sempat heran  melihat kader senior yang lain serasa memaknai arti ormex ini. paham ngga yang ku maksud? ya begitulah.

Jujur, di dalam organisasi ini banyak sekali anggota yang berprestasi dan memilki kelebihan tersendiri. mulai dari cara berbicara, berpikir hingga berdiskusi. selain itu, kader disini juga menduduki beberapa jabatan di ormawa kampus. that's why itulah salah satu faktor aku merasa insecure wwkwk. kek merasa butiran debu gitu. Dulu, eh engga, baru-baru ini sebenarnya aku merasa jenuh, ingin "pasif" sampai akhir kepengurusan. but, i can't.  aku tidak tahu alasannya mengapa. mungkin insecure itulah salah satu faktornya. aku merasa tidak "pantas" di organisasi ini karena kembali lagi banyak sekali kader yang mumpuni istilahnya. memang bisa dijadikan inspirasi, namun mental seseorang itu berbeda-beda dan aku merasa masih jauh sekali dari kata "pantas". masih ingin memantaskan diri wkwk.

Dann bagaimana akhirnya?

Aku tetap lanjut. sekarang aku diberi amanah untuk menduduki salah satu jabatan di ormex ini. untuk saat ini, aku masih belum mempunyai gambaran mau bagaimana untuk kedepannya. tapi satu hal yang  pasti, aku tetap berusaha semampu ku untuk melakukan yang terbaik.

eh tadi katanya jenuh thor? kok lanjut? 

I still don't know :(

Bantu aku mencari jawaban!

Share: